{Freelance} Piano|One-Shoot


Author:Ismi Hakim
Cast:Kim Ryeowook as Ryeowook
Jung Thami as Thami
Genre: Romance

***

Pelaku asli milik Tuhan. Cerita asli milik saya. Jika anda pernah membaca cerita persis ini sebelumnya, saya berani bersumpah cerita ini hasil karya saya sendiri. No bashing.!!!
sss
Piano–(Oneshoot)
Cast. Kim Ryeowook (Ryeowook), Jung Thami (Tambahan)
Genre : ???Romance???

////\\\\////\\\\////\\\\////\\\\////\\\\////\\\\////\\\\
Jung Thami POV (ALL)
‘wae? Waeyo harus Ryeowook? Waeyo aku mencintainya? Wae?’ batinku sambil berlari meninggalkan Ryeowook dari ruang musik sekolah. ‘aku tidak bisa membencinya! Aku terlalu mencintainya. waeyo tidak dari awal aku mengetahui kalau dia suka Piano?’ batinku lagi
>>Flashback
“Jung Thami-ah!” panggil namja dibelakangku.
“sunbae?” gumamku kaget saat melihat namja yg memanggilku adalah Ryeowook, sunbae yg kucintai itu.
“sigani isseoyo?” tanyanya padaku.
“kapan?” aku malah balik Tanya padanya.
“hhmm.. pulang sekolah..” jawabnya singkat.
“ne, banyak..” jawabku dengan anggukan meyakinkan.
“bisa bertemu denganku jam pulang nanti? Disini. Ditempat ini saja. Bagaimana?” ucap Ryeowook menawarkan
“ne, aku usahakan..” jawabku
“kamsa^^ mianhae mengganggumu..” ucapnya sambil membungkuk.
“cheonmaneyo sunbae^^” jawabku sambil membungkuk juga.
“aku duluan yaa..” ucapnya berpamitan dengan senyuman yg manis sambil meninggalkanku yg diam terpaku karna terpesona melihatnya.
‘ya! Aku berbicara dengannya jarak dekat! Biasanya aku hanya lewat e-mail atau chat! Ya! Liat hatiku berbunga-bunga melihat senyumnya! Manissnyaa sunbae-ku ><’ batinku sambil tersenyum lebar terlalu gembira..
Saat bel pulang berbunyi, aku langsung bergegas membereskan mejaku. Saking semangatnya aku berlari dari kelas tanpa berpamit pada teman-teman. Saat sampai ditempat janjian tadi, ‘Ryeowook sudah datang!’ batinku.
“mianhae membuatmu menunggu^^” ucapku padanya yg sedang duduk.
“ne, gwencanayo! Oia, aku mau memperlihatkan sesuatu padamu. Boleh tutup mata?” katanya.
‘oh my god!! Apa ini?? Jantungku rasanya mau copot melihat senyumannya!! Meleleh akuu!! Tuhann, Help Me !!’ batinku. “n..nn…ne..” jawabku tergagap seketika. Ryeowook pun memasangkan penutup mata padaku. Berjalan dengan tuntunannya. “aku mau dibawa kemana?” tanyaku.
“tunggu saja.. sebelumnya, aku minta maaf jika aku so’ kenal..” jawabnya.
“gwencanayo.. aku senang kok!” balasku. Tak lama, aku dan Ryeowook sampai pada tempat itu. Terdengar suaru pintu yg Ryeowook buka. Ia menuntunku ke tempat duduk. Dia menyuruhku duduk, dan meninggalkanku. “Sunbae, kau mau kemana?” tanyaku sambil mencari tangan Ryeowook. “aku boleh membuka penutup ini?” lanjutku.
“jangan! Jangan dulu. Aku tidak akan kemana-mana kok.. tenang saja..” jawabnya.
Tempat itu hening seketika. Namun keheningan itu dipecahkan oleh dentingan Piano dengan lagu Happy Birthday. Entah siapa yg memainkannya. Aku langsung menutup telingaku dan berteriak “Aku benci Piano !! hentikan !!” bentakku.
Dentingan Piano itu berhenti. Aku tak ingat hari ini hari ulang tahunku. Aku menangis tak tahan. Sebenarnya aku benci Piano. Donghae, mantan pacarku meninggal tiga tahun lalu saat sedang memainkan Piano dengan lagu Happy Birthday untukku.
Dengan segera aku membuka penutup mata yg sudah terlanjur basah terkena air mataku. Kagetnya aku saat melihat Ryeowook dengan wajah bingung terduduk dikursi Piano yg ada diruang musik sekolah.
“Sunbae..” gumamku menatapnya dengan tatapan sedikit emosi. Aku tak kuat menahan air mataku. Aku pun berlari meninggalkan ruang musikk dengan segera. Ryeowook menyusulku walau hanya dipintu.
“mianhaeyo!! Jeongmal mianhaeyo!! Aku tidak tau!!” teriaknya padaku.
>>Flashback End

“mianhaeyo!! Jeongmal mianhaeyo!! Aku tidak tau!!” terdengar suara Ryeowook dari kejauhan.
Aku sama sekali tidak berhenti berlari. Aku pergi ke loteng dan menangis disana. Aku menangis tersedu-sedu disana. Padahal, sudah lama aku mencoba tidak mengingat hari ulang tahunku. Sampai aku benar-benar berhasil entah bagaimana caranya.
“Arrggggggghhhhhh!!!!!!” teriakku mencondongkan badanku kedepan. “ingin rasanya lompat dari atas. Kalau saja tidak dipagar. Aku sudah mati sekarang.” Gumamku.
Aku menangis dan tersadar saat melihat Ryeowook yg kebingungan dibawah sana.. Dia belari-lari entah kebingunan karena apa. Aku menangis melihatnya. Aku mencintainya dan dalam sekejap aku langsung ingin membencinya.
“Jung Thami-ah!!!!!!” teriak namja itu dari bawah. Suaranya terdengar samar tak terlalu jelas terdengar. Aku hanya menggeleng padanya. Aku melihatnya berlari memasuki sekolah yg sudah sepi. Beberapa menit kemudian “Jung Thami-ah.. mianhaeyo.. jeongmal mianhaeyo..” ucap seorang namja dibelakangku.
Aku menoleh dan mendapatkan Ryeowook dengan keringat bercucuran ditubuhnya dengan nafas yg tidak beraturan. “Sunbae?” gumamku.
“mianhae.. jeongmal mianhae..” ucapnya. “aku tidak mengetahui kau benci piano. Aku akui aku salah. Bahkan salah besar padamu. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum dihadapanku karena aku. Mianhae, seharusnya aku mencari tau terlebih dahulu.. mianhaeyo..” lanjutnya dengan wajah yg menyesal.
“entahlah, dalam sekejap aku bisa langsung membencimu Sunbae.. hanya karna kau memainkan piano! Dan kau, mengingatkanku pada hari ulang tahunku. Padahal, susah payah aku untuk tidak mengingat hari ulang tahunku.” Jawabku dengan nada yg bergetar.
“mianhaeyo.. sebenarnya, sudah lama aku menyukaimu.. aku hanya ingin melihat senyummu dari dekat.. dan aku ingin melihat kau tersenyum karena aku.. aku, ingin membuatmu bahagia didekatku.. saranghae..” ucapnya sambil menundukan kepalanya.
‘mwo? Perasaanku terbalas? Tapi, apa yg seharusnya aku katakan padanya sekarang? Aku mencintainya, tapi disisi lain, aku juga membencinya?’ batinku. Tess! Airmataku menetes semakin deras. Aku tak kuat untuk bicara. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku bingung, apa yg seharusnya ku katakan padanya. Aku terjatuh terjongkok menutup wajahku dengan kedua tanganku.
“wae?” Tanya Ryeowook padaku. Dia mendekat dan berjongkok dihadapanku. Dia merangkulku dan mencoba bertanya apa yg terjadi padaku saat ini. “kau baik-baik saja?” tanyanya lagi.
“ne, aku tidak apa-apa.” Jawabku masih dengan wajah tertutup.
“jangan menangis.. mianhaeyo.. padahal, ini usahaku yg pertama. Tapi semua harus gagal karena kelalaianku sendiri. Mianhae.. jeongmal..” ucapnya
“Sunbae..” kataku melepas kedua tanganku dari wajahku. Aku menatapnya dengan mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semuanya.
“mwo? Jangan panggil aku Sunbae lagi.. panggil aku Oppa saja kalau kau mau.” Jawabnya.
“Oppa, nado saranghaeyo..” ucapku sambil memeluknya.
Ryeowook kaget. Namun perlahan dia membalas pelukanku. Dia memelukku erat. “mianhaeyo..” gumamnya.
“sudah Oppa.. jangan terus berkata mianhaeyo padaku..” kataku. Tess! Lagi-lagi airmataku menetes.
“boleh aku bertanya padamu?” tanyanya.
“mwo?” jawabku.
“wae? Waeyo kau bisa membenci piano?” Tanya Ryeowook melepas pelukannya. Dia memegang bahuku dengan wajah sangat penasaran.
“mantan pacarku.. dia suka sekali pada piano.. saat hari ulangtahunku, dia memainkan lagu yg kau putarkan tadi..” tiba-tiba omonganku terpotong oleh Ryeowook.
“Happy Birthday.” Katanya.
“jangan bicara!” bentakku. “Aku benci lagu itu. Aku benci piano. Aku benci hari ulang tahunku. Meski Donghae bukan siapa-siapaku lagi. Meski aku tidak menyayanginya lagi. Tapi yg membuatku sangat membenci piano adalah, saat Donghae memainkan lagunya, dia terjatuh tiba-tiba. Aku khawatir! Aku minta tolong pada semua yg ada disana. Saat dibawa ke rumah sakit, dokter berkata, dia sudah tidak ada.. dan saat aku tau bahwa dia sudah lama mengidap penyakit mematikan.” jelasku.
“Saengil chukka hamnida..” gumamnya. “kau tidak membencinya kan?” tanyanya dengan senyuman yg amat manis.
“ne.. kamsahamnida Oppa..” jawabku.
“cheonmaneyo.. jangan menangis lagi yaa..” ucapnya sambil menghapus air mata-ku yg sedari tadi tidak berhenti menetes. “saranghaeyo Jung Thami..” ucapnya sambil memelukku.
“nado saranghaeyo Ryeowook Oppa..” jawabku.
“Saengil chukka hamnida..” katanya lagi.

Saat itu, aku dan Ryeowook resmi menjadi sepasang kekasih. Aku bercerita pada teman-temanku. Mereka aneh saat mendengar ceritanya. Karna Tidak semua orang yg bermain piano dihadapanku akan ku maafkan. Namun berbeda dengan Ryeowook. Dia special disini. Dihatiku.

Advertisements

Your Comment + Like Is My Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s